Wednesday, 3 January 2018

Hakikat Syukur Terhadap Nikmat Allah


Kewajiban bagi kita untuk mensyukuri nikmat dan rahmat Allah, dan sesungguhnya hidup kita setiap hari, setiap jam, setiap menit, bergelimang dengan ribuan, jutaan, miliyaran rahmat dan nikmat Allah, dan kewajiban bagi kita untuk mensyukuri nikmat dan rahmat resebut.
Besarnya Rahmat Allah sebagaimana yang disebutkan dalam alquran, jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitung nikmat tersebut. Itu artinya kalau ibadah dan ketaatan kita digunakan untuk membayar nikmat dan rahmat Allah, tidak akan terbayar.
Kalau rahmat Allah itu satu juta, syukur kita harus satu juta. Baru dia impas atau terbayar. Kalau nikmat Allah satu milyar, syukur kita juga harus satu milyar. Kalau rahmat Allah 500 triliyun, syukur kita juga harus 500 triliyn. Bagaimana kalau nikmat Allah tidak terhitung? Bagaimana mensyukurinya?
Itu artinya ketaatan dan ibadah kita kepada Allah, yang mungkin manusia banggakan, inilah saya dengan keshalihan saya, inilah saya dengan keilmuan saya, inilah saya dengan ketaatan dan kezuhudan saya, itu semua manusia yang tertipu. Karena ketahuilah wahai manusia, seandainya semenjak kita dari bangun tidur sampai tidur lagi, itu belum cukup membayar rahmat dan nikmat Allah.
Makanya nabi muhammad pernah bersabda, “tak seorangpun dari kalian wahai manusia, masuk surga karena amalannya. Kemudian sahabat bertanya “dan kamu juga ya Rasulullah? ” rasul menjawab “ saya juga tidak” kucuali Allah meliputi diriku dengan rahmat dan keutamaanya.
Jadi orang masuk syurga bukan karena rajin beramal, tapi karena rahmat dan nikmat Allah. Lalu untuk Apa amal? Amal bermanfaat untuk menenjukan jenjang kita di syurga, karena syurga itu berjenjang, semakin tinggi semakin bagus. Dimana posisi kita nanti di syurga? InsyaAllah, itu yang menentukannya adalah amalan kita, namun masuk surgannya, itu karenah rahmat Allah. Dan Allah memberikan syurganya itu kepada orang-orang yang pantas untuk masuk ke surganya.
Kalu hadis ini direnungi dengan baik, dicermati dengan baik, di hayati dengan baik, maka insyaAllah, tidak akan ada rasa sombong menjadi orang baik. Tidak ada rasa sombong, menjadi orang yang berilmu. Tidak ada rasa sombong menjadi orang shalih. Tidak ada rasa sombong ketika berinfak dan ber sedekah. Tidak ada rasa sombong ketika berpuasa.
Apa bisa orang beribadah sombong? Bisa! Sangat bisa!
Iman ibnu jauzi mangatakan “kadang manusia ini mempertontonkan kesobongannya dengan cara yang lembut.” Kemudian beliau mendatangkan contoh, kalua ada orang yang ditanya “pak, lagi puasa pak? Jawabanya hanya  iya atau tidak. Ya, saya lagi berpuasa, tidak saya lagi tidak berpuasa. Tetapi iblis datang, sehingga orang ini menjawab “tentu kan hari ini hari kamis.” Apa tambahan makna dari “ini hari kamis itu? Tambahan maknanya adalah “tentu inikan hari kamis, saya kan orang yang selalu berpuasa di hari senin dan kamis. Sebuah kesombongan dalam sebuah amalan, sehingga kita ingin mempertontonkan amalan kita di hadapan manusia.
Tahukah anda wahai saudaraku, bahwa amalan yang paling baik, adalah amalan yang bisa kita sembunyikan dari pandangan manusia. Apabila kita membaca sejarah para ulama, maka kita akan menemukan mereka selalu menyembunyikan amalan shalihnya, dari pandangan mata manusia. Ada yang ketika bersafar dimedan jihad, dia berpura-pura tidur, sampai manusia tidur semuanya baru ia bangkit dan pergi shalat sendirian. Ada yang ketika tamunya datang dimalam hari, disubuh hari, kemudia dia berpura pura bangun dari tidur, padahal dia baru selesai melaksanakan shalat tahajud.
Saya tutup dengan sebuah cerita yang paling indah dari cerita-cerita yang indah, adalah sebuah cerita yang dinukilkan dari sebuah biografi dari cucu ali bin abi thalib. Bernama Ali bin Husain bin Ali bin Abi thalib. Yang dikenal dalam hidupnya sebagai zainal abidin.
Ketika dikota Madinah, waktu beliau masih hidup, orang-orang miskin dikota madinah seringkali menemukan makanan didepan pintu rumah mereka. Dan mereka tidak tahu siapa lelaki misterius yang selau memberikan makanan dikegelapan malam. Dan itu menjadi teka teki yang tak terjawab. Ketika Ali bin Husain bin Ali bin Abi thalib wafat, orang-orang yang memandikan beliau menemukan jejak hitam dipundaknya, dan jejak hitam ini hanya akan ada apabila orang sering mengangkat benda berat. Dan orang-orang yang memandikan beliau terheran-heran, ada apa ini? Apa gerangan yang dilakukan oleh ali bin husain? sehingga ada jejak hitam dibahunya. Tidak terjawab sambai beliau dikuburakan. Berjalan beberapa ewaktu setelah wafatnya beliau, orang-orang fakir kota madinah tidak lagi menemukan lelaki misterius yang membagikan makanan ketika dikegelapan malam. Pahamlah mereka bahawa yang membagikan makanan ketika dimalam hari itu adalah Ali bin Husain bin Ali bin Abi thalib.

Subhannallah, orang tahu keshalihannya ketika ia telah meninggal dunia, setelah dia bertemu dengan malaikat maut, setelah ia terbaring di alam barzakh. Orang baru tahu ternyata dia yang melakukan itu, adapun kita, dengan keimanan kita yang dangkal dan keilmuan kita yang tidak seberapa, telah membuat kita angkuh dihadapan banyak orang, telah membuat kita merasa paling pandai dari semua orang, telah membuat kita menjadi orang yang katanya harus selalu didengar, tidakboleh ditolak,dan semua itu adalah jebakan setan, dalam amalan seorang insan.

No comments:

MARI BERHIJRAH

Add caption MARI BERHIJRAH             Sesungguhnya peroses perubahan kita dari salah menjadi shalih, itu banayak sekali ujian yang h...