Kewajiban
bagi kita untuk mensyukuri nikmat dan rahmat Allah, dan sesungguhnya hidup kita
setiap hari, setiap jam, setiap menit, bergelimang dengan ribuan, jutaan,
miliyaran rahmat dan nikmat Allah, dan kewajiban bagi kita untuk mensyukuri
nikmat dan rahmat resebut.
Besarnya
Rahmat Allah sebagaimana yang disebutkan dalam alquran, jika kamu menghitung
nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitung nikmat tersebut. Itu
artinya kalau ibadah dan ketaatan kita digunakan untuk membayar nikmat dan
rahmat Allah, tidak akan terbayar.
Kalau
rahmat Allah itu satu juta, syukur kita harus satu juta. Baru dia impas atau
terbayar. Kalau nikmat Allah satu milyar, syukur kita juga harus satu milyar.
Kalau rahmat Allah 500 triliyun, syukur kita juga harus 500 triliyn. Bagaimana
kalau nikmat Allah tidak terhitung? Bagaimana mensyukurinya?
Itu artinya
ketaatan dan ibadah kita kepada Allah, yang mungkin manusia banggakan, inilah
saya dengan keshalihan saya, inilah saya dengan keilmuan saya, inilah saya
dengan ketaatan dan kezuhudan saya, itu semua manusia yang tertipu. Karena
ketahuilah wahai manusia, seandainya semenjak kita dari bangun tidur sampai tidur
lagi, itu belum cukup membayar rahmat dan nikmat Allah.
Makanya
nabi muhammad pernah bersabda, “tak seorangpun dari kalian wahai manusia, masuk
surga karena amalannya. Kemudian sahabat bertanya “dan kamu juga ya Rasulullah?
” rasul menjawab “ saya juga tidak” kucuali Allah meliputi diriku dengan rahmat
dan keutamaanya.
Jadi orang
masuk syurga bukan karena rajin beramal, tapi karena rahmat dan nikmat Allah.
Lalu untuk Apa amal? Amal bermanfaat untuk menenjukan jenjang kita di syurga,
karena syurga itu berjenjang, semakin tinggi semakin bagus. Dimana posisi kita
nanti di syurga? InsyaAllah, itu yang menentukannya adalah amalan kita, namun
masuk surgannya, itu karenah rahmat Allah. Dan Allah memberikan syurganya itu
kepada orang-orang yang pantas untuk masuk ke surganya.
Kalu hadis
ini direnungi dengan baik, dicermati dengan baik, di hayati dengan baik, maka
insyaAllah, tidak akan ada rasa sombong menjadi orang baik. Tidak ada rasa
sombong, menjadi orang yang berilmu. Tidak ada rasa sombong menjadi orang shalih.
Tidak ada rasa sombong ketika berinfak dan ber sedekah. Tidak ada rasa sombong
ketika berpuasa.
Apa bisa
orang beribadah sombong? Bisa! Sangat bisa!
Iman ibnu
jauzi mangatakan “kadang manusia ini mempertontonkan kesobongannya dengan cara
yang lembut.” Kemudian beliau mendatangkan contoh, kalua ada orang yang ditanya
“pak, lagi puasa pak? Jawabanya hanya
iya atau tidak. Ya, saya lagi berpuasa, tidak saya lagi tidak berpuasa.
Tetapi iblis datang, sehingga orang ini menjawab “tentu kan hari ini hari
kamis.” Apa tambahan makna dari “ini hari kamis itu? Tambahan maknanya adalah
“tentu inikan hari kamis, saya kan orang yang selalu berpuasa di hari senin dan
kamis. Sebuah kesombongan dalam sebuah amalan, sehingga kita ingin
mempertontonkan amalan kita di hadapan manusia.
Tahukah anda
wahai saudaraku, bahwa amalan yang paling baik, adalah amalan yang bisa kita
sembunyikan dari pandangan manusia. Apabila kita membaca sejarah para ulama,
maka kita akan menemukan mereka selalu menyembunyikan amalan shalihnya, dari
pandangan mata manusia. Ada yang ketika bersafar dimedan jihad, dia
berpura-pura tidur, sampai manusia tidur semuanya baru ia bangkit dan pergi
shalat sendirian. Ada yang ketika tamunya datang dimalam hari, disubuh hari,
kemudia dia berpura pura bangun dari tidur, padahal dia baru selesai
melaksanakan shalat tahajud.
Saya tutup
dengan sebuah cerita yang paling indah dari cerita-cerita yang indah, adalah
sebuah cerita yang dinukilkan dari sebuah biografi dari cucu ali bin abi
thalib. Bernama Ali bin Husain bin Ali bin Abi thalib. Yang dikenal dalam
hidupnya sebagai zainal abidin.
Ketika dikota
Madinah, waktu beliau masih hidup, orang-orang miskin dikota madinah seringkali
menemukan makanan didepan pintu rumah mereka. Dan mereka tidak tahu siapa
lelaki misterius yang selau memberikan makanan dikegelapan malam. Dan itu menjadi
teka teki yang tak terjawab. Ketika Ali bin Husain bin Ali bin Abi thalib
wafat, orang-orang yang memandikan beliau menemukan jejak hitam dipundaknya,
dan jejak hitam ini hanya akan ada apabila orang sering mengangkat benda berat.
Dan orang-orang yang memandikan beliau terheran-heran, ada apa ini? Apa gerangan
yang dilakukan oleh ali bin husain? sehingga ada jejak hitam dibahunya. Tidak terjawab
sambai beliau dikuburakan. Berjalan beberapa ewaktu setelah wafatnya beliau,
orang-orang fakir kota madinah tidak lagi menemukan lelaki misterius yang
membagikan makanan ketika dikegelapan malam. Pahamlah mereka bahawa yang membagikan
makanan ketika dimalam hari itu adalah Ali bin Husain bin Ali bin Abi thalib.
Subhannallah,
orang tahu keshalihannya ketika ia telah meninggal dunia, setelah dia bertemu
dengan malaikat maut, setelah ia terbaring di alam barzakh. Orang baru tahu
ternyata dia yang melakukan itu, adapun kita, dengan keimanan kita yang dangkal
dan keilmuan kita yang tidak seberapa, telah membuat kita angkuh dihadapan
banyak orang, telah membuat kita merasa paling pandai dari semua orang, telah
membuat kita menjadi orang yang katanya harus selalu didengar, tidakboleh
ditolak,dan semua itu adalah jebakan setan, dalam amalan seorang insan.

No comments:
Post a Comment